Internasional

Pemilu Israel: Netanyahu Ketakutan dan Singgung Nuklir Iran

Pemilu Israel: Netanyahu Ketakutan dan Singgung Nuklir Iran
Daftar Isi
  1. Ketegangan Militer dan Isu Nuklir Iran
  2. Persaingan Politik dan Posisi Oposisi
  3. Dukungan Asing dan Peringatan Bank Sentral

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu meningkatkan ancaman menjelang pemilihan umum yang dijadwalkan pada Selasa (27/10/2026). Di tengah persaingan ketat dengan blok oposisi, Netanyahu dilaporkan menekan militer Israel untuk mengambil tindakan terhadap Iran.

Ketegangan Militer dan Isu Nuklir Iran

Netanyahu mengunggah gambar buatan kecerdasan buatan yang menampilkan awan jamur nuklir menghancurkan Tel Aviv guna memperingatkan para pemilih agar tidak memilih kubu oposisi. Saluran televisi Israel, Channel 12, melaporkan Netanyahu berselisih dengan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel Letnan Jenderal Eyal Zamir terkait instruksi militer yang dikhawatirkan memicu konflik langsung dengan Iran. Zamir meminta instruksi tersebut diberikan secara tertulis, sementara Netanyahu dan Kementerian Pertahanan membantah adanya rencana operasi militer.

Di sisi lain, CNN melaporkan Netanyahu membujuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk kembali menyerang Iran dalam beberapa pekan terakhir. Financial Times memberitakan bahwa Trump menolak melancarkan serangan baru sebelum pemilihan Kongres Amerika Serikat pekan depan. Pasukan Pertahanan Israel menyatakan bahwa setiap keputusan diambil berdasarkan pertimbangan keamanan nasional.

Pernyataan tersebut kontras dengan klaim Netanyahu tahun lalu yang menyebut serangan Israel dan Amerika Serikat telah menghancurkan kemampuan Iran memperkaya uranium dan memproduksi rudal balistik.

Persaingan Politik dan Posisi Oposisi

Gadi Eisenkot, pemimpin blok oposisi dan mantan jenderal, menyatakan penolakannya terhadap langkah politik tersebut. Seperti dilansir The Guardian, Eisenkot menegaskan bahwa pihaknya tidak akan membiarkan militer dijadikan alat politik untuk mempertahankan kekuasaan Netanyahu.

Sejumlah jajak pendapat menunjukkan blok oposisi berpeluang meraih lebih banyak kursi di parlemen Knesset dibandingkan koalisi Netanyahu. Namun, kedua kubu diperkirakan kesulitan mencapai syarat 61 kursi untuk membentuk pemerintahan mayoritas tanpa berkoalisi dengan partai-partai yang mewakili warga Palestina berkewarganegaraan Israel, opsi yang ditolak oleh kelompok konservatif di dalam blok Eisenkot.

Menjelang pemungutan suara, Netanyahu menggambarkan pemilu ini sebagai persoalan eksistensial dan menuding oposisi kiri bersekutu dengan warga Palestina. Padahal, partai-partai oposisi utama berasal dari kelompok kanan atau kanan-tengah yang sama-sama menentang pembentukan negara Palestina dan mendukung perang di Gaza.

Dukungan Asing dan Peringatan Bank Sentral

Netanyahu turut menonjolkan dukungan terbuka dari Donald Trump yang kembali disampaikan melalui media sosial pada Minggu. Media Walla News melaporkan dukungan itu muncul akibat tekanan terus-menerus dari kantor Netanyahu, kendati survei menunjukkan dukungan Trump tidak banyak memengaruhi pilihan sebagian besar pemilih Israel.

Menjelang akhir kampanye, Netanyahu juga memperingatkan potensi isolasi ekonomi dan mengeringnya bantuan militer tahunan dari Amerika Serikat. Bank sentral Israel turut melayangkan teguran terbuka setelah Netanyahu menyatakan mata uang kripto dapat dipakai untuk menghindari sanksi internasional.

Bank sentral menegaskan bahwa langkah yang tepat bagi perekonomian Israel adalah mempertahankan hubungan dengan mitra dagang utama dan mencegah sanksi, alih-alih menggunakan kripto.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *