Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyalahkan Washington atas kegagalan kesepakatan sementara yang bertujuan untuk mengakhiri perang dengan Amerika Serikat dan Israel. Pernyataan tersebut muncul di tengah kekhawatiran yang kian meningkat bahwa pertempuran dapat kembali pecah dalam waktu dekat.
Panggilan untuk Melanjutkan Perundingan
Dalam pernyataan yang disiarkan oleh saluran Press TV pada Sabtu, Pezeshkian menyatakan bahwa kedua belah pihak harus kembali ke meja perundingan dan menyelesaikan kesepakatan tersebut. Komentar ini disampaikan di tengah kekhawatiran bahwa aksi militer dapat dimulai kembali akhir pekan ini setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Jumat bahwa ia mungkin akan melancarkan serangan lanjutan dengan sandi operasi “Epic Fury”, mengacu pada perang AS-Israel yang dimulai pada 28 Februari.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memperingatkan bahwa serangan terbatas sekalipun akan memicu balasan yang jauh lebih besar, seperti dilaporkan oleh kantor berita semi-resmi Fars News Agency. Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Ali Abdollahi menegaskan pada Sabtu bahwa militer AS tidak akan diizinkan masuk ke Teluk Persia dalam keadaan apa pun dan kapan pun. Abdollahi menyatakan bahwa Trump hanya bisa bermimpi melihat pasukan AS memasuki wilayah tersebut.
Ketegangan Politik dan Respons Teheran
Trump mengindikasikan kemungkinan aksi militer lanjutan terhadap Iran, sementara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan komitmennya untuk menggulingkan pemerintahan negara tersebut. Kedua pemimpin saat ini menghadapi agenda pemilihan umum, di mana warga Israel dijadwalkan memilih pemerintahan baru pada Selasa, sementara Partai Republik pimpinan Trump menghadapi pemilihan paruh waktu krusial pada 3 November.
Juru bicara pemerintah Iran Fatemeh Mohajerani menegaskan pada Sabtu bahwa Teheran tidak akan menunggu izin untuk membela diri. Ia menambahkan bahwa negaranya mengupayakan perdamaian namun akan merespons setiap agresi dengan konsekuensi berat. Posisi Iran sangat jelas bahwa mereka tidak menghindari dialog untuk perdamaian dan tidak ragu dalam mempertahankan negara.
Pernyataan tersebut menyusul pertemuan antara Kepala Kehakiman Iran Gholamhossein Mohseni Ejei dan Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei untuk membahas pemberantasan korupsi serta tuntutan kompensasi bagi warga Iran yang terdampak perang. Khamenei menggantikan ayahnya sebagai pemimpin tertinggi setelah sang ayah tewas dalam serangan awal perang pada 28 Februari, dan belum pernah terlihat di muka umum sejak awal Maret. Ketua Parlemen sekaligus Kepala Negosiator Mohammad Bagher Ghalibaf juga dilaporkan telah menemui Khamenei pada pekan ini.





