Internasional

Muslim Mencari Rasa Memiliki dan Ketenangan di Spanyol Selatan

Muslim Mencari Rasa Memiliki dan Ketenangan di Spanyol Selatan
Daftar Isi
  1. Membangun House of Andalus di Pegunungan Alora
  2. Menemukan Kedamaian dan Kenyamanan Beragama
  3. Pertemuan Lintas Keyakinan dan Warisan Sejarah Al-Andalus

Perjalanan kereta dari stasiun Malaga menuju lembah Guadalhorce membawa penumpang melewati lanskap pedesaan Spanyol selatan yang kaya akan jejak sejarah Islam. Di kawasan pegunungan dekat Alora, sejumlah Muslim memilih menetap untuk membangun komunitas, merajut hubungan bertetangga, dan terhubung kembali dengan warisan masa lalu Andalusia.

Membangun House of Andalus di Pegunungan Alora

Di stasiun kereta Alora yang tenang di bawah terik matahari siang, Henrietta Szovati, seorang Muslim asal Inggris-Hungaria, tiba dengan truk pikap berdebu. Bersama suaminya, seorang terapis dan imam bernama Ajmal Masroor, ia telah menghabiskan waktu dua tahun terakhir mengubah sebuah rumah pertanian tua beserta lahan seluas 14 hektare menjadi proyek bernama House of Andalus. Proyek tersebut bertujuan mendekatkan orang-orang pada sejarah Islam di Spanyol selatan serta kehidupan alam sekitar, dengan ratusan pohon zaitun yang menghiasi kawasan itu seperti dilaporkan Al Jazeera.

Henrietta menceritakan bahwa wilayah sekitarnya sempat dilanda kebakaran hutan pada puncak musim panas, menyisakan lanskap berbatu dan tanah berwarna kemerahan. Di tanah seluas itu, tumbuh subur berbagai tanaman seperti jeruk, buah fig, alpukat, hingga mangga. Tinggal di pegunungan tersebut juga memperkenalkannya dengan tetangga sekitar, seperti Juan Garcia, yang darinya ia membeli lemon, madu, dan alpukat, serta sesekali membantu mengurus kebun zaitun.

Menemukan Kedamaian dan Kenyamanan Beragama

Bagi Henrietta, kedekatan dan semangat bertetangga seperti itu lebih sulit ia temukan selama tinggal di Inggris sejak tahun 2001. Ia merasa tetap menjadi orang luar di Inggris setelah lebih dari dua dekade, di mana identitasnya sebagai seorang Muslim sering kali dilihat melalui kacamata politik dan pemberitaan negatif. Sementara itu, Hungaria tidak pernah menjadi pilihan baginya karena menilai pemerintahannya bersikap rasis dan berhaluan kanan.

Di pegunungan Alora, ia merasa para tetangga memperlakukannya pertama-tama sebagai Henrietta, seorang warga yang tinggal di ujung jalan dan aktif dalam kegiatan desa. Praktik beragama dirasakannya jauh lebih mudah di tempat ini. Meski demikian, ia menyadari bahwa Spanyol tidak kebal dari arus politik yang melanda Eropa, termasuk partai sayap kanan Vox yang menjadikan penentangan terhadap imigrasi dan Islamisasi sebagai kampanye utama mereka.

Henrietta mengakui bahwa kehidupan sebagai seorang Muslim bisa terasa sulit di mana pun di dunia saat ini, namun ia memilih untuk fokus pada hal-hal yang dapat ia bangun ketimbang memikirkan situasi politik di luar kendalinya. Hubungan dengan sesama warga dijalin melalui perjumpaan sehari-hari, melampaui perbedaan keyakinan yang ada di antara mereka.

Pertemuan Lintas Keyakinan dan Warisan Sejarah Al-Andalus

Dalam sebuah kunjungan ke rumah Juan Garcia, ibunya yang berusia 79 tahun, Maria, sempat bertanya tentang selendang biru yang membalut rambut Henrietta. Kepada Maria yang seorang Katolik, Henrietta menjelaskan bahwa menutup rambut merupakan bagian dari keyakinan agamanya untuk merasa lebih dekat kepada Tuhan, yang kemudian disambut dengan perbincangan hangat mengenai sosok Maria yang juga menutup kepalanya.

Bagi Maria, hal terpenting adalah menjadi orang baik, sementara atribut luar dari keyakinan tidak memiliki arti besar jika seseorang tidak berbuat baik. Interaksi yang mengalir tanpa kecanggungan semacam itulah yang membuat wilayah Andalusia terasa seperti rumah sendiri bagi Henrietta. Koneksi tersebut juga diperkuat oleh rasa hormat yang mendalam terhadap sejarah yang membentang lebih dari seribu tahun di wilayah tersebut.

Menurut penulis perjalanan dan sejarawan Muslim asal Inggris, Tharik Hussain, penulis buku Muslim Europe, daya tarik Andalusia sangat bisa dipahami karena wilayah tersebut merupakan pusat kekuasaan Islam abad pertengahan di Spanyol dan Portugal modern. Reruntuhan bangunan bersejarah, sistem irigasi, bahasa, hingga tradisi yang ditinggalkan oleh dinasti Muslim selama berabad-abad terus membentuk identitas Spanyol jauh setelah kejatuhan Granada pada tahun 1492.

Kini, gelombang warga Muslim yang datang ke Andalusia tidak hanya mencari tempat berlibur di bawah sinar matahari, melainkan panggilan jiwa untuk terhubung kembali dengan sejarah ketika Islam menjadi bagian dari Eropa. Mereka berupaya membangun kehidupan di mana keyakinan mereka tidak lagi dipandang sebagai pembeda yang mencolok di tengah masyarakat modern Spanyol.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *