Daftar Isi
Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menegaskan bahwa pendidikan vokasi harus menjadi solusi terhadap pengangguran sekaligus menyiapkan sumber daya manusia (SDM) industri yang kompeten, produktif, dan berdaya saing. Penguatan keterkaitan antara lembaga pendidikan dan dunia industri menjadi kunci agar lulusan memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja, terutama di tengah percepatan transformasi teknologi dan perubahan karakter industri.
Paradoks Pengangguran Lulusan SMK
Sarmuji menyoroti adanya paradoks yang cukup tinggi dalam dunia pendidikan saat ini. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dibentuk untuk menyiapkan anak-anak yang siap bekerja, tetapi data menunjukkan bahwa pengangguran yang tinggi salah satunya justru berasal dari lulusan SMK.
Namun, menurut Sarmuji, paradoks tersebut tidak terjadi di SMK-SMAK Bogor dan Politeknik AKA Bogor. Hal tersebut disampaikannya dalam keterangan tertulis pada Jumat (23/10/2026), seperti dilaporkan detikcom.
“Saat ini ada paradoks yang cukup tinggi. SMK dibentuk untuk menyiapkan anak-anak yang siap bekerja, tetapi data menunjukkan bahwa pengangguran yang tinggi salah satunya justru berasal dari lulusan SMK. Namun, paradoks itu tidak terjadi di SMK-SMAK Bogor dan Politeknik AKA Bogor. Ini luar biasa dan patut kita apresiasi,” kata Sarmuji.
Sarmuji mengaku terkesan dengan kualitas pembelajaran, berbagai inovasi, serta capaian kedua institusi pendidikan vokasi di bawah naungan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) tersebut. Ia menilai keberhasilan itu perlu menjadi contoh bagi lembaga pendidikan vokasi lainnya dalam mengatasi kesenjangan antara kompetensi lulusan dan kebutuhan tenaga kerja industri.
“Saya sungguh senang bisa mengunjungi SMK-SMAK Bogor. Performanya luar biasa. Tentu bukan hal yang mudah mempertahankan capaian seperti ini. Pasti ada keunggulan yang dimiliki, salah satunya link and match dengan dunia industri yang kuat. Ini terbukti dari banyaknya kerja sama yang telah dibangun dengan perusahaan,” ujarnya.
Pentingnya Kualitas SDM Hadapi Bonus Demografi
Sarmuji menilai Indonesia saat ini tengah menghadapi momentum bonus demografi yang harus dimanfaatkan secara optimal melalui peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja. Apabila tidak diimbangi dengan kemampuan SDM dan kesempatan kerja yang memadai, bonus demografi justru berpotensi menjadi beban bagi Indonesia ke depan.
Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen pada tahun 2029. Guna mendukung sasaran tersebut, industri pengolahan ditargetkan tumbuh 8,14 persen, dengan produktivitas tenaga kerja industri manufaktur meningkat dari Rp 124,35 juta per orang pada 2025 menjadi Rp 147,7 juta per orang pada 2029.
Pencapaian target tersebut dinilai tidak cukup hanya mengandalkan penambahan investasi, pembangunan fasilitas produksi, maupun peningkatan jumlah tenaga kerja. Dalam jangka panjang, pertumbuhan industri sangat ditentukan oleh kualitas SDM, produktivitas, serta kemampuan dalam menguasai dan mengembangkan teknologi.
Penguatan Program dan Prestasi Vokasi
Sementara itu, Plt Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin, Adie Rochmanto Pandiangan, menjelaskan bahwa pihaknya terus memperkuat kualitas pendidikan vokasi melalui penyelarasan kurikulum dengan kebutuhan industri. Upaya ini juga mencakup peningkatan kompetensi tenaga pendidik, pengembangan fasilitas pembelajaran, serta perluasan kemitraan dengan dunia usaha dan dunia industri.
“Melalui penguatan pendidikan vokasi berbasis kompetensi dan kebutuhan industri, kami terus mendorong agar lulusan tidak hanya memiliki kemampuan akademis dan keterampilan teknis, tetapi juga kesiapan kerja, kemampuan beradaptasi, serta daya saing yang tinggi,” ujar Adie.
Adie mengungkapkan bahwa SMK-SMAK Bogor menyelenggarakan pendidikan kejuruan bidang kimia analisis selama empat tahun dengan menerapkan kurikulum terintegrasi. Kurikulum tersebut memadukan kurikulum nasional, Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), kebutuhan industri, serta standar internasional.
Dalam mendukung pembelajaran berbasis praktik, SMK-SMAK Bogor telah mengembangkan program unggulan seperti teaching factory, pembelajaran berbasis proyek, sertifikasi kompetensi, praktik kerja industri, hingga fasilitasi penempatan kerja lulusan melalui Bursa Kerja Khusus (BKK). Sekolah tersebut juga mencatatkan berbagai prestasi, di antaranya akreditasi A, penerapan sistem manajemen mutu ISO 9001:2015, perolehan nilai A dalam penilaian penerapan pendidikan vokasi sistem ganda dari Perkumpulan Ekonomi Indonesia-Jerman (EKONID), serta meraih peringkat pertama SMK terbaik di Jawa Barat berdasarkan capaian TKA dan UTBK tahun 2025.
Sumber: Finance - Detikcom




