Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali ditutup melemah pada akhir perdagangan Kamis (22/10/2026). Seperti dilaporkan CNBC Indonesia, mata uang Garuda terkoreksi meskipun indeks dolar AS sedang mengalami penurunan.
Data Refinitiv menunjukkan rupiah bertengger di level Rp18.045 per dolar AS, turun 0,25 persen atau 45 poin dibandingkan posisi penutupan pada Rabu (21/10/2026) yang berada di angka Rp18.000 per dolar AS. Sepanjang sesi perdagangan, rupiah bergerak pada rentang Rp18.010 hingga Rp18.050 per dolar AS sebelum akhirnya mengakhiri transaksi mendekati level terlemahnya. Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang utama dunia, terkoreksi 0,20 persen ke posisi 101,575 pada pukul 15.00 WIB, tetapi masih mampu bertahan di atas level 101.
Faktor Penggerak Dolar AS dan Kebijakan Bank Sentral
Kekuatan dolar AS masih mendapat sokongan dari persepsi daya tahan ekonomi negara tersebut, termasuk optimisme pertumbuhan ekonomi yang dipicu perkembangan industri kecerdasan buatan (AI). Kondisi ketahanan ekonomi ini mendorong perkiraan pasar bahwa suku bunga acuan di AS dapat bertahan tinggi dalam jangka waktu lebih lama. Meski begitu, posisi beli terhadap mata uang AS mulai mereda akibat menguatnya beberapa mata uang utama lainnya, seperti poundsterling, dolar Kanada, dolar Australia, serta dolar Selandia Baru.
Perhatian para pelaku pasar kini tertuju pada pengumuman kebijakan suku bunga dari tiga bank sentral utama dunia pada pekan depan, yaitu Federal Reserve (The Fed), Bank Sentral Eropa (ECB), serta Bank of Japan (BOJ). Ketiganya diperkirakan mempertahankan tingkat suku bunga acuan. Khusus untuk The Fed, suku bunga diproyeksikan tetap berada pada kisaran 3,75 hingga 4,00 persen pada Oktober, sedangkan peluang kenaikan pada Desember mendatang masih terus dicermati investor.
Minyak Dunia dan Dampak ke Rupiah
Di luar isu suku bunga global, tekanan terhadap rupiah juga datang dari lonjakan harga minyak mentah dunia. Harga minyak jenis Brent naik sekitar 2,59 persen menjadi US$111,64 per barel akibat meningkatnya eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah yang mengancam kelancaran pasokan energi dunia.
Sebagai negara pengimpor bersih minyak, lonjakan harga minyak berpotensi memicu peningkatan kebutuhan dolar AS untuk membiayai impor energi sekaligus memperbesar risiko inflasi di dalam negeri, yang menjadi faktor eksternal utama pembayang pergerakan nilai tukar rupiah.
