Dunia

Perang di Sudan Rampas Masa Depan Anak-Anak dan Pendidikan

Perang di Sudan Rampas Masa Depan Anak-Anak dan Pendidikan
Daftar Isi
  1. Ancaman Putus Sekolah dan Pekerja Anak
  2. Dampak Psikologis dan Risiko Eksploitasi
  3. Tekanan Ekonomi Keluarga

Konflik bersenjata di Sudan yang meletus pada 15 April 2023 telah merampas masa depan jutaan anak akibat penutupan sekolah, pengungsian, dan kesulitan ekonomi yang parah. Salah satunya dialami oleh Abkar Mohammed, anak berusia sembilan tahun yang bekerja membersihkan dan menyemir sepatu di jalanan Port Sudan setiap hari demi membantu keuangan keluarganya yang mengungsi dari Khartoum.

Ancaman Putus Sekolah dan Pekerja Anak

Abkar tiba di Port Sudan bersama ibu dan tiga saudaranya setelah kehilangan sang ayah sebelum perang dimulai. Karena situasi finansial yang sulit, ia tidak mengenyam pendidikan formal melainkan belajar Al-Quran di sebuah khalwa tradisional. Abkar menceritakan kepada Al Jazeera bahwa ia berkeliling ke area-area sibuk untuk bekerja setelah pelajarannya selesai dan pulang sebelum matahari terbenam.

Dari pekerjaannya, Abkar memperoleh sekitar 1.000 pound Sudan untuk setiap pasang sepatu yang dibersihkan atau dijahit, dengan total pendapatan harian mencapai sekitar 10.000 pound yang seluruhnya diserahkan kepada sang ibu. Kisah Abkar mencerminkan kondisi delapan juta dari total 17 juta anak usia sekolah di Sudan yang tidak bersekolah, menurut data UNICEF. Save the Children mencatat bahwa anak-anak di Sudan telah kehilangan rata-rata sekitar 484 hari pembelajaran di kelas sejak perang dimulai akibat fasilitas pendidikan yang rusak, pertempuran, serta pengungsian berkepanjangan.

Di wilayah Darfur, sekitar 80 persen sekolah tutup dan 70 persen anak tidak menghadiri kelas. Pasukan Dukungan Cepat (RSF) yang berkonflik dengan Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) dituduh menyerang sekolah dan universitas menggunakan pesawat nirawak. Pada September 2026, serangan drone di North Kordofan bahkan menghancurkan lebih dari 330.000 buku pelajaran.

Dampak Psikologis dan Risiko Eksploitasi

Sulaima Ishag dari Dewan Penasihat Pemerintah untuk Perempuan dan Anak menyatakan kepada Al Jazeera bahwa anak-anak di zona konflik seperti Darfur dan Kordofan menghadapi risiko permanen kehilangan akses pendidikan, terutama anak perempuan. Sulaima menuturkan bahwa ketiadaan sekolah memicu kasus putus sekolah, pernikahan anak, kekerasan seksual, kehamilan remaja, hingga peningkatan pekerjaan rumah tangga bagi anak perempuan.

Eva Hinds, Kepala Advokasi dan Komunikasi UNICEF di Sudan, menjelaskan kepada Al Jazeera bahwa hampir separuh bangunan sekolah di negara tersebut tidak lagi berfungsi akibat kerusakan perang. Hinds memperingatkan bahwa semakin lama anak-anak tidak bersekolah, semakin sulit bagi mereka untuk mengejar ketertinggalan belajar, yang pada akhirnya memperdalam ketimpangan dan menghambat kontribusi generasi muda terhadap pemulihan negara.

Psikolog Hanaa Mohamed mengungkapkan kepada Al Jazeera bahwa pengungsian berkepanjangan dan gangguan sekolah menimbulkan dampak psikologis yang signifikan, membuat anak-anak hidup dalam ketakutan konstan, mengalami gangguan tidur, kesulitan fokus, serta perubahan perilaku seperti agresi atau penarikan diri dari sosial.

Tekanan Ekonomi Keluarga

Perekonomian Sudan mengalami kemunduran hingga 30 tahun akibat perang, di mana 60 persen penduduknya kini hidup dalam kemiskinan. Minimnya lapangan pekerjaan bagi orang dewasa memaksa para orang tua mengandalkan anak-anak mereka untuk mencari pendapatan esensial.

Saliha Omer, seorang penjual teh jalanan di Port Sudan, mengaku kondisi keuangan yang minim pasca-pengungsian membuatnya belum bisa menyekolahkan putranya yang berusia 11 tahun yang kini bekerja di sebuah toko kelontong. Senada dengan itu, Mahmoud al-Ghali yang kini berusia 16 tahun telah berjualan makanan ringan di jalanan Port Sudan selama tiga tahun terakhir setelah putus sekolah saat perang pecah pada usia 13 tahun.

Mahmoud menceritakan kepada Al Jazeera bagaimana ia harus berpindah-pindah tempat pengungsian sebelum akhirnya tiba di Port Sudan pada Juli 2025 untuk mencari uang demi membantu keluarganya. Meskipun dua adik laki-lakinya kini sudah bisa kembali bersekolah di Negara Bagian Gaziera setelah SAF merebut kembali wilayah tersebut, Mahmoud bertekad terus bekerja demi mendukung keluarganya.

Mahmoud mengatakan bahwa dirinya sudah terbiasa bekerja karena keadaan tidak menyisakan banyak pilihan lain baginya.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *