Teknologi

MacBook Pro Berlayar Sentuh Layak Dibeli? Ini Ulasannya

MacBook Pro Berlayar Sentuh Layak Dibeli? Ini Ulasannya

Apple secara resmi memperkenalkan MacBook Pro dengan layar sentuh yang dinamai PROLED XDR Display, yang diklaim memberikan cara baru bagi kalangan profesional berinteraksi dengan konten. Meski demikian, kehadiran fitur baru ini memunculkan keraguan terkait manfaat dan kesesuaian harganya bagi konsumen.

Kenyamanan Ergonomis dan Biaya Tambahan

Berdasarkan ulasan kanal teknologi TechRadar seperti dilansir CNBC Indonesia, interaksi melalui layar sentuh dinilai tidak terlalu esensial dan berisiko membuat tangan cepat pegal akibat posisi lengan yang harus terus menerus menjangkau layar dalam waktu lama.

Apple sebenarnya menyoroti sejumlah kegunaan fitur tersebut, seperti desainer grafis yang bisa memakai seluruh area layar sebagai kanvas serta musisi yang dapat memainkan instrumen digital langsung di layar. Namun, TechRadar mempertanyakan kenyamanan aktivitas tersebut untuk durasi panjang karena berpotensi menguras stamina lengan.

Apabila pengguna hanya menyentuh layar sesekali lalu kembali ke papan tik dan trackpad, fungsi ini dinilai kurang sepadan dengan tambahan biaya sebesar US$400 atau sekitar Rp6,3 juta dibandingkan versi standar. Biaya ekstra itu memang mencakup pembaruan panel OLED untuk kualitas visual lebih baik, tetapi fitur layar sentuh dianggap membutuhkan alasan yang lebih kuat untuk produk premium.

Kritik Steve Jobs dan Penjelasan CEO Apple

Pandangan miring terhadap laptop berlayar sentuh menggemakan kritik mendiang pendiri Apple, Steve Jobs, yang pernah menyebut bahwa interaksi sentuh pada laptop tidak ergonomis dan membuat lengan terasa ingin copot jika dipakai terlalu lama. TechRadar menilai argumen Jobs masih relevan lantaran anatomi tubuh manusia tidak berubah meski Apple telah mendesain layar agar nyaman dicoba.

Sementara itu, dalam wawancara dengan majalah Wired, CEO baru Apple John Ternus menjelaskan bahwa perusahaan berfokus memastikan kehadiran layar sentuh tidak merusak kualitas produk. Ia menyatakan penambahan fitur itu tidak membuat perangkat menjadi lebih berat atau lebih tebal, berkat dukungan panel OLED.

Kendati demikian, penjelasan tersebut dinilai masih belum cukup kuat untuk membenarkan urgensi pembelian. TechRadar menyimpulkan bahwa langkah ini lebih terlihat sebagai upaya Apple mengikuti jejak produsen laptop Windows ketimbang sebuah terobosan revolusioner yang menghadirkan pengalaman baru bagi pengguna.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *