Pemerintah menyiapkan skema percepatan peningkatan produksi untuk melepas ketergantungan impor kebutuhan bawang putih dalam negeri yang masih berada di kisaran 90 hingga 95 persen. Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Alim Setiawan Slamet menyatakan bahwa penguatan tersebut ditempuh melalui riset terapan serta pendampingan budi daya agar program berjalan tepat sasaran.
Dua Jalur Percepatan Produksi Bawang Putih
Alim menjelaskan bahwa skema peningkatan produksi ini dijalankan lewat dua jalur yang saling melengkapi. Jalur pertama berfokus pada percepatan budi daya, yang mencakup penetapan lokasi, penyusunan kalender tanam, pemetaan kebutuhan petani, serta pendampingan teknis secara langsung.
Pada jalur pertama, Alim meminta perincian lokasi pengembangan dan jadwal tanam agar dukungan pemerintah bisa disalurkan sesuai kebutuhan di lapangan. Ia menekankan bahwa keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada penyediaan lahan, tetapi juga kesiapan petani dalam menguasai teknik budi daya yang tepat.
“Ini betul-betul mulai baru, sehingga kita membutuhkan keterampilan baru dari petani. Pendampingan budidaya, peningkatan literasi, dan penguasaan teknologi tepat guna menjadi sangat penting,” terang Alim, seperti dilaporkan detikcom, Sabtu (31/10/2026).
Sementara jalur kedua diarahkan pada riset dan kajian guna menjawab tantangan produksi dalam jangka pendek maupun panjang. Fokus kajian meliputi pengembangan varietas unggul, perbaikan teknologi budi daya, peningkatan mutu hasil, efisiensi penggunaan sarana produksi, serta pengendalian organisme pengganggu tumbuhan.
Alim juga menyoroti pentingnya penanganan pascapanen dalam riset tersebut, termasuk langkah menekan kehilangan hasil saat penyimpanan dan distribusi. Aspek transportasi serta pengemasan turut mendapat perhatian agar kualitas bawang putih tetap terjaga hingga sampai ke tangan konsumen.
“Yang kita butuhkan adalah inovasi yang betul-betul siap diterapkan, bukan yang masih sebatas potensi. Karena skalanya besar, kita harus memastikan teknologi dan rencana yang dipilih benar-benar bisa mendukung pencapaian target,” ujar Alim.
Pembangunan Ekosistem Usaha dan Data Impor
Alim menegaskan bahwa upaya penguatan produksi harus berjalan seiring dengan pembangunan ekosistem usaha yang sehat. Regulasi pendukung, kepastian peran pihak terkait, serta kemitraan perlu disiapkan sejak awal agar hasil panen petani memiliki kepastian jalur pemasaran.
“Kita ingin membangun ekosistem yang baik. Kemitraannya harus jelas, termasuk apa yang akan dikerjakan dan hasil yang ingin dicapai. Kebijakan dan regulasi pendukungnya juga perlu disiapkan,” jelas Alim.
Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), volume impor bawang putih nasional pada periode Januari hingga Juni 2026 menyentuh angka 229,76 ribu ton. Jumlah tersebut mengalami peningkatan apabila dikomparasikan dengan kurun waktu yang sama pada tahun sebelumnya yang sebesar 178,89 ribu ton.
Dari keseluruhan total volume impor tersebut, sebanyak 98 persen pasokan bawang putih Indonesia didatangkan langsung dari China. Sementara itu, sisa pasokan impor lainnya dipenuhi dari negara India.
Sumber: Finance - Detikcom







