Pertumbuhan ekonomi di kawasan Uni Eropa tercatat melambat menjadi 0,4 persen pada kuartal III 2026. Penurunan laju produk domestik bruto (PDB) ini terjadi di tengah kontraksi ekonomi yang melanda Prancis serta stagnasi pertumbuhan di sejumlah negara anggota lainnya.
Kinerja Ekonomi Zona Euro Lampaui Proyeksi
Berdasarkan data badan statistik Eurostat, capaian pertumbuhan ekonomi sebesar 0,4 persen ini masih lebih baik dibandingkan ekspektasi para ekonom dalam survei Reuters yang sebelumnya mematok angka 0,2 persen. Kendati demikian, pencapaian tersebut melambat jika dibandingkan dengan kuartal II 2026 yang mampu tumbuh 0,6 persen, setelah sempat stagnan pada tiga bulan pertama tahun ini.
“Zona euro menunjukkan ketahanan yang tak terduga di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik yang cukup besar,” ujar Joe Nellis selaku Kepala Penelitian Ekonomi di firma akuntansi MHA, dikutip dari CNBC, Sabtu (31/10/2026).
Kendati demikian, Nellis menyoroti bahwa ketahanan ini berisiko menutupi berbagai masalah struktural mendasar. Masalah yang membayangi zona euro meliputi lesunya produktivitas dan belanja investasi, tekanan demografi, hingga penurunan daya saing sektor industri Eropa secara keseluruhan.
Ia menambahkan bahwa proyeksi ekonomi untuk 2027 berisiko semakin kompleks akibat ancaman inflasi susulan. Tanpa penyelesaian krisis di Timur Tengah dalam waktu dekat, kenaikan tarif energi dan transportasi diperkirakan akan menekan biaya hidup serta kondisi keuangan rumah tangga di tengah melemahnya tingkat kepercayaan konsumen.
Prancis Kontraksi, Spanyol Tampil Kuat
Di balik angka pertumbuhan kawasan, sejumlah negara dengan perekonomian besar di Eropa menghadapi tantangan serius. Ekonomi Prancis secara tak terduga mengalami kontraksi 0,1 persen sepanjang periode Juli hingga September 2026. Negara tersebut dihadapkan pada peningkatan biaya pinjaman akibat larinya modal investor di tengah krisis politik dan aksi demonstrasi.
Saat ini, Pemerintah Prancis berupaya memangkas defisit anggaran dan utang nasional. Namun, situasi diperparah oleh gelombang protes warga terkait kenaikan biaya hidup sepanjang Oktober 2026 yang diwarnai kerusuhan serta timbulnya kerugian materiil cukup besar.
Sementara itu, Jerman sebagai ekonomi terbesar di zona euro mencatatkan pertumbuhan tipis sebesar 0,2 persen pada kuartal III 2026. Adapun Italia, yang merupakan kekuatan ekonomi terbesar ketiga di kawasan zona euro, mencatatkan pertumbuhan stagnan di angka 0 persen.
Kondisi berbeda terlihat di Spanyol yang mencatatkan pertumbuhan 0,6 persen. Meskipun sempat diguncang demonstrasi menuntut penanganan biaya hidup dan krisis perumahan hingga mendorong pelaksanaan pemilu mendadak bulan depan, ekonomi Spanyol ditopang oleh kuatnya pasar tenaga kerja, sektor pariwisata, permintaan domestik, serta kondisi fiskal yang sehat.
Sementara itu, Irlandia mencatatkan pertumbuhan PDB mencapai 5,5 persen. Angka pertumbuhan Irlandia terkenal sangat fluktuatif karena sangat dipengaruhi oleh lalu lintas bisnis perusahaan multinasional berskala besar yang terdaftar di negara tersebut tetapi beroperasi secara global.
Sumber: Finance - Detikcom






