Daftar Isi
Harga emas kembali mencatat penguatan ditopang oleh penurunan harga minyak yang meredakan kekhawatiran inflasi. Pelaku pasar saat ini tengah menantikan hasil rapat kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) untuk melihat arah suku bunga Amerika Serikat (AS) selanjutnya.
Kenaikan Harga Emas dan Faktor Pendorong
Berdasarkan data Refinitiv, harga emas pada perdagangan Selasa (27/10/2026) ditutup di level US$ 4.057,81 per troy ons setelah melompat 1,03 persen. Penguatan tersebut melanjutkan tren positif emas yang mengalami kenaikan selama dua hari berturut-turut. Pada Rabu (28/10/2026) pukul 06.39 WIB, harga emas kembali merangkak naik sebesar 0,07 persen menjadi US$ 4.060,55 per troy ons.
Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals, Peter Grant, menyatakan bahwa penurunan harga minyak berpotensi mendukung pergerakan emas karena dapat meredakan tekanan inflasi serta mengurangi peluang The Fed untuk bersikap hawkish. Seperti dilaporkan CNBC Indonesia, Grant menyebutkan bahwa situasi pasar saat ini juga masih sangat dipengaruhi oleh perkembangan situasi di Timur Tengah serta proses negosiasi yang sedang berjalan.
Di sisi lain, harga minyak berjangka mengalami penurunan lebih dari 1 persen pada Selasa akibat perhatian pasar yang beralih ke perundingan perdamaian di Timur Tengah. Kendati demikian, harga komoditas tersebut masih berada di sekitar level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir di tengah bayang-bayang konflik Houthi-Arab Saudi serta potensi serangan baru dari AS dan Israel.
Tantangan Inflasi dan Arah Suku Bunga The Fed
Analis pasar American Gold Exchange, Jim Wyckoff, mengingatkan bahwa tren kenaikan harga minyak yang berlanjut dapat memicu lonjakan inflasi dan mendorong bank sentral memperketat kebijakan moneter, yang pada akhirnya menjadi sentimen negatif bagi emas. Para pejabat The Fed sebelumnya telah mengisyaratkan tidak akan kembali menaikkan suku bunga jangka pendek AS.
Kendati demikian, kekhawatiran terhadap inflasi membuat investor memproyeksikan bahwa jeda kenaikan suku bunga tersebut tidak akan berlangsung lama. Suku bunga yang tinggi sendiri berdampak pada peningkatan biaya peluang dalam memegang aset emas yang tidak menawarkan imbal hasil berupa bunga.
Melalui instrumen CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperhitungkan probabilitas sebesar 83 persen bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada Desember mendatang. Para pelaku pasar juga menaruh perhatian pada rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS pada Kamis, yang menjadi salah satu acuan penting bagi The Fed dalam memantau target inflasi di level 2 persen.
Proyeksi Analis dan Pergerakan Harga Perak
Berdasarkan hasil survei Reuters, para analis tercatat memangkas proyeksi harga emas untuk tahun 2026 dalam dua kuartal berturut-turut. Kebijakan tersebut didorong oleh tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury, penguatan dolar AS, serta perkiraan bahwa suku bunga akan bertahan di level tinggi dalam waktu yang lebih lama. Walau demikian, para analis tetap memperkirakan harga emas akan mengalami pemulihan pada tahun 2027.
Sementara itu, tren penguatan juga terjadi pada harga perak. Merujuk Refinitiv, harga perak pada perdagangan Selasa (27/10/2026) ditutup di posisi US$ 54,36 per troy ons setelah menanjak 0,8 persen, yang sekaligus memperpanjang tren positif perak selama dua hari beruntun. Pada Rabu (28/10/2026) pukul 06.37 WIB, harga perak melanjutkan penguatan tipis sebesar 0,12 persen ke level US$ 54,42 per troy ons.






