Kawasan Dieng di Wonosobo, Jawa Tengah, terkenal sebagai wilayah dataran tinggi dengan julukan Negeri di Atas Awan karena berada di ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut. Kondisi geografis tersebut melahirkan berbagai kuliner khas yang menghangatkan tubuh, salah satunya adalah mie ongklok yang populer.
Asal-Usul dan Proses Pembuatan
Nama ongklok diambil dari wadah keranjang kecil berbahan anyaman bambu yang dipakai untuk meracik makanan ini. Istilah tersebut merujuk pada teknik memasaknya yang disebut diongklok, yaitu mencelupkan keranjang bambu berisi mie, kol, serta daun kucai ke dalam air mendidih.
Berdasarkan catatan dalam buku Bawana Winasis Dieng tahun 2021 karya Sutopo dkk yang dilansir dari Indonesia Kaya, hidangan ini pertama kali muncul pada era 1940-an. Makanan tersebut diciptakan oleh seorang juru masak warung mie di Jaraksari, Wonosobo, bernama Muhadi, yang meracik sajian mie dengan kuah kental khas buatannya.
Ciri Khas dan Pendamping Menu
Kuah kental pada mie ongklok tidak menggunakan kaldu biasa, melainkan ramuan khusus berbahan tepung kanji atau sagu, ebi, serta gula Jawa yang dinamakan loh. Semangkuk mie ongklok disajikan bersama potongan daging ayam, kol, daun kucai, taoge, serta tambahan merica dan sambal bagi penikmat rasa pedas.
Satu porsi hidangan berkuah kental ini biasanya disantap bersama sate sapi, tempe kemul, atau geblek sebagai pelengkap. Salah satu destinasi kuliner legendaris yang menyajikan menu ini adalah Mie Onglok Longkrang yang telah beroperasi sejak tahun 1975 di Jalan Pasukan Ronggolawe Nomor 4, Longkrang, Wonosobo.
Rumah makan tersebut menawarkan satu porsi mie ongklok seharga Rp14.000, yang dapat dinikmati bersama pilihan sate ayam atau sate sapi dengan kisaran harga Rp32.000 hingga Rp34.000 per sepuluh tusuk.
Sumber: Food - Detikcom




