Ekonomi & Bisnis

Proyek Kilang LNG Abadi Blok Masela Rampungkan Tahap FEED

Proyek Kilang LNG Abadi Blok Masela Rampungkan Tahap FEED
Daftar Isi
  1. Penyelesaian Tahap FEED Lebih Cepat
  2. Alokasi Gas Domestik dan Ekspor
  3. Sekilas Tentang Blok Masela

Proyek Kilang LNG Abadi di Blok Masela, Maluku, mencapai progres penting setelah merampungkan tahap Front-End Engineering Design (FEED) lebih cepat dari target yang ditetapkan. Proyek gas alam cair raksasa dengan estimasi investasi sebesar US$ 20,9 miliar ini sebelumnya telah melalui proses peletakan batu pertama oleh Presiden Prabowo Subianto pada Juli 2026.

Penyelesaian Tahap FEED Lebih Cepat

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyatakan bahwa tahap FEED dari proyek tersebut selesai tiga bulan lebih awal dari jadwal yang direncanakan pada akhir tahun ini. Keberhasilan ini dicapai berkat koordinasi intensif yang dilakukan secara berkala bersama pihak Inpex.

“Awalnya, INPEX akan menyelesaikan FEED pada akhir tahun ini. Kemudian kami meeting-meeting terus hampir tiap minggu supaya bisa diselesaikan lebih cepat. Alhamdulillah, akhirnya bisa lebih cepat tiga bulan sebelum target yakni per hari ini sudah selesai,” ujar Djoko dalam acara FEED Completion Ceremony Proyek LNG Abadi di Jakarta, Selasa (27/10/2026).

Pekerjaan utama dalam tahap FEED ini mencakup empat bagian, yaitu Subsea Umbilicals, Risers, and Flowlines (SURF) serta Gas Export Pipeline oleh PT World Sea Indonesia. Selain itu, pengerjaan FEED-FPSO melibatkan konsorsium PT Saipem, PT Tripatra, PT McDermott, PT Teknif Indonesia, serta PT JGC Indonesia. Sementara itu, FEED Onshore LNG (OLNG) Plant dikerjakan oleh konsorsium JGC, Teknif, serta konsorsium PT KBR, Samsung, dan PT Adhi Karya (Persero).

Djoko menambahkan bahwa proses tersebut melibatkan Independent Design Review dengan dukungan lebih dari 200 profesor, doktor, serta pakar dari Universitas Pattimura, Institut Teknologi Sepuluh November, dan Institut Teknologi Bandung.

Alokasi Gas Domestik dan Ekspor

Dari sisi alokasi, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia telah memberikan persetujuan penyaluran gas dari Kilang LNG Masela untuk kebutuhan di dalam negeri maupun luar negeri. Untuk pasar domestik, alokasi diberikan kepada PT PLN (Persero), PT PGN Tbk, dan PT Pupuk Indonesia (Persero).

Sementara itu, persetujuan alokasi ekspor telah ditandatangani untuk ditujukan kepada BP Singapura dan Shell Singapura. Djoko menargetkan penandatanganan Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) dapat dilangsungkan dalam acara FOREK Hulu Migas 2026.

“Alhamdulillah kemarin dan sehari sebelumnya juga Bapak Menteri telah menandatangani persetujuan alokasi gas domestik, baik itu berupa gas pipa untuk Pupuk Indonesia (Persero), untuk PLN, LNG, dan PGN berupa LNG juga,” kata Djoko.

Apabila PJBG tersebut rampung, keputusan akhir investasi atau Final Investment Decision (FID) diharapkan dapat tercapai pada penghujung tahun ini atau selambat-lambatnya Januari 2027.

President Director INPEX Masela Ltd., Kenji Hasegawa, menyampaikan bahwa penyelesaian tahap rekayasa awal ini menandai langkah berikutnya menuju tahap Engineering, Procurement, Construction, and Installation (EPCI) serta persiapan FID.

“Perlu saya tegaskan bahwa penyelesaian tahap ini bukanlah tujuan akhir kami. Saat ini, kami sedang melangkah menuju tahap EPCI, sekaligus mempersiapkan pengambilan keputusan investasi akhir atau FID,” tutur Kenji.

Sekilas Tentang Blok Masela

Proyek dengan nilai investasi mencapai US$ 20,95 miliar ini memiliki potensi cadangan gas sebesar 6,97 triliun kaki kubik (TCF). Fasilitas kilang di darat tersebut direncanakan memiliki kapasitas produksi 9,5 juta ton per tahun (MTPA) LNG, gas pipa sebesar 150 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD), serta kondensat sebanyak 35.000 barel per hari (bph).

Kontrak bagi hasil atau Production Sharing Contract (PSC) Blok Masela pertama kali ditandatangani oleh Inpex Corporation bersama Pemerintah Indonesia pada 16 November 1998 di era Presiden BJ Habibie. Inpex saat ini memegang hak partisipasi terbesar sebesar 65 persen, didampingi oleh PT Pertamina Hulu Energi Masela sebesar 20 persen dan Petronas sebesar 15 persen setelah hengkangnya Shell Upstream Overseas Services.

Lapangan Abadi yang terletak di Laut Arafura dengan kedalaman air 400 hingga 800 meter ini juga dirancang untuk menerapkan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) guna mendukung pengurangan emisi karbon dan transisi energi.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *