Segmen kendaraan murah ramah lingkungan atau Low Cost Green Car (LCGC) di Indonesia menghadapi tantangan seiring bergesernya preferensi konsumen ke arah kendaraan elektrifikasi. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menilai perkembangan teknologi mobil listrik menjadi salah satu pemicu menurunnya penjualan LCGC dan kendaraan konvensional.
Peralihan Tren ke Mobil Elektrifikasi
Ketua Umum Gaikindo Putu Juli Ardika menjelaskan bahwa program LCGC yang diluncurkan pada periode 2012–2014 sebelumnya mencetak keberhasilan besar. Pangsa pasar kendaraan di segmen ini bahkan pernah menembus angka 24 persen dari total penjualan mobil secara nasional.
Namun, hadirnya kendaraan listrik terus mengubah pilihan masyarakat. Seperti dilaporkan CNBC Indonesia saat menemui Putu di kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta, perubahan ini menjadi tantangan bagi industri untuk menjaga minat kelompok pembeli mobil pertama di Indonesia.
Ia berpandangan bahwa kendaraan murah di masa depan tidak harus selalu menggunakan mesin pembakaran internal atau Internal Combustion Engine (ICE). Pemanfaatan teknologi seperti hybrid maupun plug-in hybrid dinilai bisa menjadi solusi, asalkan harganya tetap berada dalam jangkauan masyarakat.
“Jadi sebenarnya ini masa peralihan. Kalau kita mau mempertahankan segmen pembeli mobil pertama (new entry), teknologinya memang harus mengarah ke Electric Vehicle. Jadi mobil murah (LCGC) itu tidak harus ICE (mesin pembakaran internal), bisa saja bentuknya Hybrid atau Plug-in Hybrid, yang penting affordability-nya (keterjangkauannya) tercapai dan harganya murah. Itu sudah kita sampaikan juga,” ujar Putu.
Target Penjualan Mobil Nasional
Di tengah pergeseran tren pasar tersebut, Gaikindo tetap memelihara sikap optimis terhadap capaian pasar otomotif secara umum. Organisasi ini mematok target penjualan mobil nasional sebanyak 850.000 unit sepanjang 2026.
Sikap optimistis ini ditopang oleh tren penjualan pada periode Januari hingga September 2026 yang memperlihatkan peningkatan dibanding periode sama tahun sebelumnya. Penjualan eceran atau ritel mengalami kenaikan 15 persen, sementara penjualan grosir atau wholesales mencatatkan kenaikan lebih tinggi sebesar 21 persen.
Terkait dengan proyeksi pasar untuk tahun 2027, pihak Gaikindo menyatakan belum menetapkan perkiraan secara resmi. Meski demikian, hasil pertumbuhan penjualan dalam sembilan bulan pertama tahun ini dipandang sebagai pendorong keyakinan bagi industri otomotif nasional.





