Para pejabat kedutaan besar Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah berada dalam status siaga tinggi menyusul laporan intelijen mengenai rencana serangan dari Iran. Berdasarkan laporan US Top News and Analysis (cnbc.com), ancaman tersebut berada dalam tahap lanjutan dan menyasar warga negara Amerika Serikat.
Peningkatan Keamanan dan Peringatan Intelijen
Sebuah memo dari Direktur Intelijen Nasional Jay Clayton menyatakan bahwa badan-badan intelijen menerima informasi bahwa Iran telah meningkatkan upaya secara substansial untuk menargetkan personel Amerika Serikat di kawasan tersebut. Ancaman itu juga berlaku bagi negara-negara tertentu lainnya.
Peringatan ini dikeluarkan setelah Amerika Serikat memerintahkan pegawai pemerintah non-esensial untuk meninggalkan Arab Saudi. Keputusan tersebut diambil seiring dengan memburuknya serangan dari kelompok Houthi yang didukung oleh Iran, sementara perang antara Amerika Serikat dan Teheran telah mendekati bulan kedelapan.
Perkembangan Konflik dan Pasar Minyak
Koalisi pimpinan Arab Saudi menyatakan telah menghancurkan dua rudal balistik yang ditembakkan oleh kelompok Houthi ke arah Taif dan Yanbu. Di tengah meningkatnya ketegangan ini, lonjakan situasi di Timur Tengah turut mendorong kenaikan harga minyak dunia, di mana kontrak berjangka minyak mentah Brent sempat melampaui 116 dolar Amerika Serikat per barel atau mencapai level tertinggi dalam enam bulan.
Sumber: US Top News and Analysis





