Internasional

Kinerja Volvo Cars Anjlok, Saham Jatuh ke Level Terendah

Kinerja Volvo Cars Anjlok, Saham Jatuh ke Level Terendah
Daftar Isi
  1. Kerugian Operasional dan Pemangkasan Pekerja
  2. Lonjakan Penggunaan Kas
  3. Tantangan Pemulihan dan Prospek

Kinerja produsen mobil asal Swedia Volvo Cars mencatatkan hasil yang mengecewakan pada kuartal III-2026. Nilai saham Volvo Cars anjlok sebesar 24 persen pada penutupan perdagangan Jumat (23/10/2026) dan mencapai level terendah sepanjang sejarah.

Kerugian Operasional dan Pemangkasan Pekerja

Penurunan tersebut terjadi setelah Volvo membukukan kerugian operasional kuartal III-2026 yang jauh melampaui perkiraan, mencatatkan penggunaan kas dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya, serta mengumumkan tambahan pemangkasan 2.500 pekerja yang mayoritas berada di Swedia. Kondisi ini dialami perusahaan yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh Geely Holding asal China ketika berhadapan dengan permintaan kendaraan listrik yang tidak merata, tekanan tarif yang meningkat, serta situasi pasar China yang berat.

“Kuartal III-2026 sangat mengecewakan dan mencerminkan kondisi tahun ini yang jauh lebih menantang daripada perkiraan awal. Oleh karena itu, rencana pemulihan yang sedang kami jalankan perlu diperkuat secara tegas,” ujar CEO Volvo Hakan Samuelsson, menyitir Reuters.

Kepada Reuters, Samuelsson mengatakan target penyelesaian pemangkasan tersebut adalah pada pertengahan 2027, dengan kemungkinan adanya langkah-langkah tambahan.

Lonjakan Penggunaan Kas

Perusahaan otomotif tersebut melaporkan kerugian operasional sebesar 3,7 miliar krona Swedia atau setara US$373 juta pada kuartal III, berbalik dari laba sebesar 5,8 miliar krona pada periode yang sama tahun lalu. Kerugian ini jauh lebih besar dari konsensus pasar sebesar 724 juta krona menurut Analis Citi.

Kesulitan ini menunjukkan tekanan luas yang dialami produsen mobil Eropa akibat permintaan yang lemah, persaingan ketat dari produsen China, serta kelebihan kapasitas pabrik yang menekan margin keuntungan industri. Situasi serupa juga dialami oleh Volkswagen yang berencana memangkas hingga 100.000 pekerja dan berpotensi menutup sejumlah pabrik.

Sepanjang kuartal III, Volvo menghabiskan kas sekitar 8,9 miliar krona Swedia, yang merupakan dua kali lipat jumlah kas yang terkuras pada periode yang sama tahun 2025.

“Jika kondisi ini berlanjut selama dua kuartal lagi, mereka mungkin membutuhkan tambahan modal,” tutur analis Handelsbanken, Hampus Engellau, sembari mencatat bahwa peningkatan produksi SUV listrik EX60 yang baru diharapkan dapat membantu perusahaan yang masih memiliki kas lebih dari 30 miliar krona tersebut.

Langkah-langkah terbaru ini berdampak pada sekitar 6 persen dari total tenaga kerja melalui pengakhiran kontrak konsultan, pengurangan alami jumlah karyawan, serta paket pengunduran diri yang ditargetkan, di luar pengurangan 3.000 pekerjaan yang diumumkan sebelumnya.

Tantangan Pemulihan dan Prospek

Samuelsson kembali dari masa pensiun pada 2025 dengan kontrak berjangka dua tahun untuk membalikkan keadaan Volvo. Meskipun telah melakukan pemangkasan biaya besar, strategi regionalisasi, dan mempererat hubungan dengan Geely, prospek bisnis tetap memburuk dan Volvo menyatakan masih perlu memangkas tambahan biaya sebesar 5 miliar krona.

Mantan pemimpin Skoda, Klaus Zellmer, dijadwalkan menggantikan Samuelsson tahun depan untuk menghentikan kemerosotan merek mobil Eropa tersebut.

“Zellmer kini menghadapi pekerjaan yang jauh lebih sulit dibandingkan ketika penunjukannya diumumkan sebulan lalu,” tulis analis Bernstein dalam sebuah catatan, menambahkan bahwa kondisi perusahaan kemungkinan belum akan segera membaik.

Model Volvo EX60 sebagai versi elektrik dari XC60 yang menjadi kunci pemulihan mengalami penundaan signifikan akibat kendala perakitan baterai. Perusahaan menyatakan baru sekitar 5.000 unit yang berhasil diproduksi dari target 40.000 unit untuk tahun ini.

Pada bulan ini, perusahaan mencabut proyeksi volume penjualan dan arus kas setahun penuh demi memprioritaskan margin dibandingkan pangsa pasar di China, guna menghindari perang harga di tengah penurunan pendapatan kuartal ketiga yang mencapai hampir 50 persen.

Mats Ekberg dari Asosiasi Pemegang Saham Swedia menyebut situasi ini mengkhawatirkan, meski produsen mobil tersebut tetap diuntungkan oleh teknologi dan struktur biaya rendah dari Geely.

Margin kotor Volvo turun menjadi 14,7 persen pada kuartal III dibandingkan 20,4 persen pada periode yang sama tahun lalu. Enam dari 13 model yang direncanakan meluncur hingga akhir dekade ini akan dirancang khusus untuk pasar China, dan Samuelsson menyatakan tidak memperkirakan kinerja grup di sana akan membaik sebelum model tersebut dipasarkan.

“Kami mungkin seharusnya menyadari lebih awal bahwa kami perlu menerapkan pendekatan yang lebih regional di China. Kami mungkin juga seharusnya lebih awal menyadari bahwa tarif akan diberlakukan, sehingga kami perlu meningkatkan lokalisasi produksi di AS,” ungkap Samuelsson.

“Jadi, itulah kelemahan kami saat ini, dan kami sedang berupaya mengatasinya,” imbuhnya.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *