Daftar Isi
Jutaan situs web di seluruh dunia menghadapi risiko peningkatan serangan siber menyusul ditemukannya dua celah keamanan pada sistem Hypertext Preprocessor (PHP) oleh kecerdasan buatan atau AI. Kondisi ini membuat banyak pengelola situs web memutuskan untuk menutup layanan sementara guna mencegah aksi pembobolan data.
Dampak Luas Celah Keamanan PHP
Bahasa pemrograman PHP telah menjadi fondasi bagi sebagian besar situs web di dunia selama lebih dari tiga dekade. Teknologi ini turut digunakan oleh berbagai sistem manajemen konten seperti WordPress, Drupal, Joomla, dan Magento.
Menurut pemberitaan The Guardian, sekitar 70 persen situs web di internet menggunakan PHP, yang berarti jutaan situs kini berada dalam ancaman kerentanan tersebut. Layanan milik pemerintah, toko daring, bank, hingga situs media besar seperti Wikipedia dan Facebook termasuk ke dalam daftar yang terdampak.
Sejumlah lembaga dan organisasi pemerintahan dari Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Belanda, Kanada, Jepang, Jerman, serta berbagai negara lain turut menonaktifkan layanan web mereka sementara waktu. Langkah ini diambil untuk mencegah peretas mengeksploitasi celah keamanan yang ada.
PHP Foundation mengumumkan laporan kerentanan ini melalui rilis resmi pada Rabu (21/10). Organisasi tersebut juga telah merilis versi terbaru PHP yaitu 8.5.12, 8.4.27, 8.3.36, dan PHP 8.2.35 guna mengatasi masalah tersebut.
Mekanisme Serangan dan Ancaman
Para peneliti keamanan siber secara rutin menguji sistem untuk menemukan kerentanan. Sejak awal 2026, teknologi AI dilibatkan untuk mempercepat proses identifikasi potensi kelemahan pada sistem.
Mereka menyatakan telah bekerja sama dengan model AI terdepan dari Anthropic untuk memindai kode PHP, serta memasukkan proyek PHP ke dalam program Patch the Planet milik OpenAI. Program tersebut menemukan masalah ini bersama seorang peneliti bernama Ryan A dari Calif pada pertengahan Agustus.
Temuan ini mencakup dua celah keamanan berisiko tinggi yang teridentifikasi sebagai CVE-2026-109618 dan CVE-2026-109619. Kedua kerentanan tersebut bekerja pada sistem manajemen memori dan penanganan kesalahan, sehingga berisiko merusak memori situs web dan membuka jalur langsung ke sistem berkas atau basis data peladen.
Kerentanan yang dijuluki sebagai eksploitasi “PHP2Shell” ini berdampak sangat serius karena menyerang bagian inti PHP dan sulit untuk diperbaiki. Melalui celah ini, peretas dapat mengambil alih kendali peladen dari jarak jauh tanpa autentikasi serta mencuri data sensitif.
Berbagai lembaga keamanan siber global termasuk NSA, NCSC, dan FBI telah mengeluarkan peringatan keras. Mereka mendesak pengelola situs web untuk segera memperbarui sistem atau menonaktifkan layanan web jika pembaruan belum dapat dilakukan.
Peran AI dalam Keamanan Perangkat Lunak
Kemampuan agen AI dalam mengidentifikasi masalah terus meningkat hingga mampu mendeteksi kerentanan yang kerap luput dari pengamatan manusia. Di sisi lain, teknologi yang sama dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki masalah atau justru dipakai oleh pihak tak bertanggung jawab untuk melakukan eksploitasi.
Perkembangan teknologi ini mendorong banyak pembaruan keamanan perangkat lunak karena AI sangat mudah diakses dan berpotensi disalahgunakan oleh para peretas.
“Pelaku ancaman bergerak cepat, terutama dengan bantuan AI, dan ini (PHP2Shell) kemungkinan akan menjadi target prioritas mereka dalam beberapa jam dan hari mendatang,” ujar Don Smith, pakar keamanan siber di Sophos Counter Threat Unit.
Situasi ini dinilai cukup mengkhawatirkan mengingat PHP Foundation hanya didukung oleh 13 pengembang inti yang bekerja secara penuh maupun paruh waktu. Kapasitas tersebut terpaut jauh dari kemampuan AI yang bekerja sangat cepat dan didukung investasi global bernilai miliarder dolar.
Untuk menangani masalah ini, PHP Foundation menggandeng berbagai pihak termasuk perusahaan keamanan siber Calif dan Wiz yang menemukan kasus tersebut. Mereka juga memanfaatkan teknologi AI dari Alpha-Omega, OpenAI, dan Anthropic guna memperkuat sistem keamanan ke depan.




