Pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei memperingatkan Amerika Serikat (AS) bahwa serangan baru terhadap negaranya akan memicu perang yang jauh lebih luas. Peringatan tersebut disampaikan di tengah kekalahan politik Presiden Donald Trump dalam pemilu sela AS, yang membuat Partai Demokrat berhasil merebut kendali Kongres.
Pernyataan Tertulis Mojtaba Khamenei
Dalam pernyataan tertulis yang dipublikasikan melalui situs resminya pada Rabu (4/11/2026), Khamenei menegaskan bahwa Iran tidak berharap perubahan komposisi kekuatan politik di Washington akan mengubah sikap permusuhan AS terhadap Teheran, sebagaimana dilaporkan CNBC Indonesia.
Pernyataan itu muncul beberapa jam setelah Partai Demokrat meraih kemenangan dalam pemilu sela AS pada Selasa. Hasil pemungutan suara tersebut mencerminkan ketidakpuasan masyarakat Amerika terhadap tingginya biaya hidup, kebijakan tarif perdagangan, serta perang melawan Iran yang telah menyebabkan harga bahan bakar melonjak.
Situasi politik di Washington berubah ketika upaya diplomatik untuk mencegah pecahnya kembali pertempuran antara AS dan Iran masih berlangsung. Konflik kedua negara, yang juga melibatkan Israel, pertama kali meletus pada 28 Februari lalu, sementara para pemimpin AS dan Israel kembali melontarkan ancaman untuk melanjutkan serangan terhadap Iran dalam beberapa hari terakhir.
Khamenei menegaskan bahwa Teheran tidak akan tinggal diam apabila serangan militer kembali dilakukan.
Tanggapan Pejabat Tinggi Iran
Hasil pemilu sela AS turut mendapat perhatian sejumlah pejabat tinggi Iran yang menilai kemenangan Partai Demokrat menunjukkan penolakan masyarakat Amerika terhadap kebijakan perang pemerintahan Trump. Ketua negosiator Iran dalam perundingan dengan AS, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyebut pemilih Amerika telah menyampaikan pesan yang jelas melalui kotak suara.
Pernyataan keras juga disampaikan Kepala Kehakiman Iran, Gholamhossein Mohseni Ejei, yang menyatakan bahwa Trump telah mengalami kekalahan, baik dalam konflik militer maupun persaingan politik di dalam negeri, dan Iran pasti akan memberikan kekalahan lebih lanjut kepadanya.
Mojtaba Khamenei, yang kini berusia 57 tahun, belum pernah tampil di hadapan publik sejak ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi Iran pada Maret lalu untuk menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan gabungan AS dan Israel pada awal perang, 28 Februari 2026.







