Universitas Cornell memulai pemungutan suara mosi tidak percaya terhadap jajaran pimpinan kampus akibat dugaan kasus pemerkosaan beruntun yang memicu kemarahan publik serta sorotan terhadap penanganan universitas.
Pemungutan Suara Mosi Tidak Percaya
Anggota fakultas memulai pemungutan suara tersebut pada hari Kamis yang dijadwalkan berlangsung hingga 6 November. Langkah ini tidak bersifat mengikat, namun dapat memberikan sinyal bahwa Presiden Michael Kotlikoff telah kehilangan kepercayaan dari para pengajar di kampus tersebut.
“Hundreds of students, staff, faculty and alumni approached the sponsors of this resolution to emphasize to us that the Jane Doe case is but a tip of the iceberg,” ujar Paul Ortiz selaku pengusul utama resolusi tersebut.
Sebuah gugatan yang diajukan pada bulan lalu menyatakan bahwa seorang mahasiswi, yang disebut sebagai Jane Doe, dibius dan diperkosa secara bergilir oleh tujuh mahasiswa di sebuah asrama persaudaraan pada tahun 2024.
Sorotan Penanganan Kampus dan Reaksi
Kasus ini menimbulkan pertanyaan mengenai apakah pihak universitas bertindak dengan urgensi yang memadai atau justru meremehkan dugaan kekerasan tersebut demi melindungi reputasi institusi. Pihak universitas sebelumnya sempat menutup asrama persaudaraan tersebut dan menskors para mahasiswa pria, di mana dua di antaranya kemudian dikeluarkan.
Berdasarkan laporan The Associated Press, perdebatan tersebut terjadi setelah sekelompok 20 staf pengajar wanita bidang sains dan teknik mendesak Kotlikoff untuk mundur melalui surat yang dikirimkan kepada dewan wali.
“What our community needed was clear leadership; instead, it faced a leadership vacuum,” demikian bunyi surat tersebut.
Presiden Kotlikoff sempat berupaya merespons polemik tersebut melalui sebuah pernyataan pada awal bulan ini yang merinci sejumlah langkah awal penanganan. “I am deeply sorry for the harm Jane Doe suffered in 2024, and appalled that this act of sexual violence occurred within our Cornell community,” ucapnya.
Sementara itu, dua pria yang dituduh terlibat dalam kasus pemerkosaan tersebut meminta agar Jaksa Agung New York Letitia James dicopot dari posisinya dalam mengawasi penyelidikan pidana baru kasus ini. Permintaan itu dilayangkan menyusul unggahan media sosial sang jaksa agung yang menunjukkan dukungan kepada korban sebelum penunjukannya, sementara seorang hakim pada hari Kamis menunjukkan sikap skeptis terhadap salah satu gugatan yang oleh kantor jaksa agung disebut tidak memiliki dasar.







